Home / Pendidikan
Tidak Perlu Minder Kalau Dibully
Penulis: Tribun Pekanbaru, Nolpitos Hendri | Sabtu, 08 April 2017 | 12:24 WIB Dibaca: 369 kali

TribunPekanbaru/Nolpitos Hendri
Wini
Berita Terkait
Pemprov Riau Akan Menggulirkan Dana Rp4,8 Miliar untuk Beasiswa
Pastikan Anak Kurang Mampu Tetap Sekolah, Ini yang Akan Dilakukan Disdik Pekanbaru
Siswi SDN 9 Bagan Melibur Mandapat Apresiasi

PEKANBARU - Lovers (penyuka) dan haters (pembenci) selalu ada di dunia nyata maupun di dunia maya atau di media sosial (medsos). Setiap orang selalu saja ada yang suka dan tidak suka. Bagi mereka yang tidak suka kepada seseorang, sering mereka melakukan tekanan, baik fisik maupun mental atau yang dikenal dengan bully. Bagi sebagian oran, mudah menghadapi bully ini, namun sebagian orang sulit menghadapinya, malahan ada yang membuat mereka sering murung dan menyendiri atau "minder" dari orang lain.

Beberapa orang anak muda yang berhasil ditemui Tribun, mengaku mengakami bully dalam bentuk fisik dan mental. Mereka memiliki cara sendiri dalam menghadapi bully tersebut. Bully yang mereka alami tidak saja di dunia nyata, di dunia maya atau di medsos pun mereka dibully. Seorang anak muda yang pernah dibully di medsos oleh haters adalah Alam.

Alam pernah dibully beberapa kali di medsos gara-gara postingannya tentang politik. Saat pertama dibully itu ia ketakutan, karena diancam akan dipenjarakan dan sebagainya. Namun, ia melihat profile haters tersebut, ternyata sang haters tidak memiliki data lengkap di medsosnya, sehingga Alam sedikit lega.

"Ketika saya memposting "meme" tantang hal lainnya, juga ada haters dan bahkan ketika soal politik lagi, haters yang sama kembali membully saya. Saat iti saya lawan dan ketika sudah ngelantur, saya cuekin. Trus, saya biarkan saja dia menulis komentar sesukanya tanpa saya tanggapi," ungkap Alam kepada Tribunpekanbaru.com pada Jumat (7/4).

Anak muda yang juga pernah dibully adalah Heri. Heri pernah dibully oleh teman satu sekolahnya. Ia pernah diludahi, diancam akan dipukul, dan dihalang-halangi saat akan masuk gerbang sekolah. Awalnnya Heri takut dan tidak melawan, dan ia mendiamkan saja apa yang dialaminya.

"Saya takut, karena yang membully saya kakak kelas, dan ia bersama teman-temannya. Mereka beberapa kali membully saya. Saya tidak laporkan ke sekolah atau orangtua karena saya ingin menghadapi mereka dengan cara saya. Saya dapat akal supaya mereka tidak membully saya lagi, saya berteman dengan siswa yang jago karate, namun saya tidak membalas mereka, malahan sekarang mereka berteman dengan saya," ungkap Heri.

Remaja yang juga pernah dibully adalah Wini. Ia pernah mengalami ejekan dari teman sesama mahasiswa, dan pernah juga mengalami bully fisik. Wini menghadapinya dengan cuek, karena bully yang ia alami belum terlalu parah. Ia menganggap orang yang membullynya main-main saja.

"Saat dibully saya sempat merasa malu dan merasa tersudutkan. Tapi saya tipe orang yang tak terlalu peduli omongan orang, kalau mereka capek kan mereka entar diam sendiri. Saya tetap jalani keseharian saya tanpa beban," ungkap Wini.

Teysya juga pernah mengalami bully, awalnya ia mendiam si pembuli dan sabar. Ketika dia terus membully, Tesya menanyakan langsung ke si pembuli mengapa ia membully-nya, karena apa, dan ia jelaskan kepada si pembully bahwasannya membuly itu tidak baik karena termasuk tindak kekerasan.

"Ketika ia masih membully saya,  saya laporkan kepada pihak sekolah dan guru. Selain itu, saya suga sabar, tawakal dan berdoa agar pintu hati si pembully lekas sadar," ungkap Teysya.

Adit juga pernah di bully, baik di dunia nyata maupun media sosial. Bully yang sering dialami masih tahap ringab. Ia pernah diejek karena mendapatkan nilai rendah di kelas, terlambat dan saat berbeda dalam mengenakan pakaian. Kalau di media sosial, ia pernah dibully menjelang Pilpres 2014, karena berbeda pandangan dalam menentukan pilihan pemimpin. Saat itu ia membuat status yang mendukung salah satu pasangan calon.

"Saya menerima bully itu tapi saya memberikan balasan karena saya anggap itu bercandaan. Perasaan saya saat dibully, kadang merasa sedih dan membuat saya kurang percaya diri karena ada tekanan psikologis yang saya rasakan. Namun itu bisa diatasi dengan meluoakannya. Selain itu, bagi korban bully lainnya, bisa dengan melaporkannya kepada orangtua, guru, atau kepada pihak berwajib," ungkap Adit. (*)

[ Kembali ]
Perpisah Siswa Siswi SMP Negeri 4 Rengat
Kepsek SMPN 2 Selatpang Minta Pemda Meranti
Wali Murid Menyambut Senang SDN 133 kota
138 Mahasiswa UPP Diwisuda
SD 002 TEBING TINGGI BUTUH GEDUNG BARU
Ini Pesan Fans untuk Puteri Indonesia Riau 2016
Advertorial
Bupati Sukiman Nyatakan Adat Budaya Melayu Harus Dilestarikan
Manfaatkan Hasil Pertanian, Gubri Tinjau Perkebunan Milik
HUT Riau Tahun Ini Angkat Tema Riau Bermarwah
Walikota Dorong DLHK Lakukan Penertiban Terhadap Pungutan
Galeri
DPRD Kabupaten Rokan Hulu Adakan Rapat Paripurna Pendapat Akhir
Wabup H. Said Hasyim Hadiri Acara Festival Sagu Nusantara
Pimpin Sidang Paripurna Hari Jadi Kabupaten Kampar Ke- 70
Faisal Dilantikan Jadi Ketua IKKD Kampar
Kampar - Pelalawan - Siak - Inhu - Inhil - Kuansing - Bengkalis - Rohul - Rohil - Dumai - Meranti - Insel
Indeks Berita - Indeks Terpopuler - Advertorial - Galeri - Foto - Redaksi
2015 All Rights Reserved | Amanat Rakyat